Kamis, 22 Juli 2010

Jurus Siulan Maut, Aksara Jawa & Aksara Kebalik


Postingan ini akan menceritakan kebodohan masa SMA Jaka Nangrub ketika ia harus berjibaku dengan pelajaran, minimnya kecerdasan, dan juga masalah dengan guru, berikut kisah lengkapnya.



Kelas XI adalah kelas di mana Jaka Nangrub mengalami kehancuran bidang akademik, selama di kelas XI, Nangrub harus berjibaku dengan segala bentuk Remidi alias "Ujian Ulangan" dan juga pelecehan terhadap beberapa guru (wis goblok bejat pisan), sebenarnya menghina para guru tersebut tidak dilakukan dengan sengaja oleh Jaka Nangrub, namun "Insting Aneh" telah menggiring dirinya untuk terus berbuat hal - hal aneh dan tolol.



Bukannya memperbaiki keadaan saat kelas XI, Jaka Nangrub malah masuk dalam lembah kebodohan, pilihannya untuk duduk di barisan kursi paling belakang bersama dengan ketiga temannya Adit, Amal, dan Amel telah membuat dirinya semakin terpuruk dalam jurang kebodohan.



Sebetulnya kasihan mereka, gara – gara terlalu dekat dengan Jaka Nangrub menyebabkan mereka terjangkiti "Virus Bodoh", contohnya si Adit, dia sebenarnya adalah anak yang pintar terbukti saat ini ia terdaftar di FKG (Fakultas Kedokteran Gigi) sebagai tukang sapu eh... mahasiswa melalui Jalur SPMB, jalur dengan cara paling sulit, dan dengan kesempatan paling kecil, tapi ketika sekelas dan sebangku dengan Jaka Nangrub segala potensi akademiknya mandeg, pelajaran Bahasa Inggris adalah keahliannya, jadi kalo nyontek ulangan terutama bahasa inggris Jaka Nangrub selalu mengandalkan manusia yang satu ini.

Si Amal dan Amel yang duduk dekat dengan Jaka Nangrub juga termasuk yang Suspect Virus "Virus Bodoh Jaka Nangrub" karena kerap kali mendapat gangguan ketika menerima pelajaran dari guru, Amal dan Amel juga dua orang siswa yang menjadi objek hina – hinaan oleh Jaka Nangrub, yang membuat bingung kenapa mereka betah saja duduk berada dekat dengan Jaka Nangrub tak pernah sekalipun tersirat dari mulut mereka ingin pindah tempat duduk, pindah kelas, apalagi pindah sekolah.



Bercerita tentang pelecehan terhadap guru, sempat beberapa kali dilakukan oleh Jaka Nangrub,sebenarnya hal itu dilakukan tanpa unsur kesengajaan sama sekali, bayangkan saja Jaka Nangrub pernah memanggil seorang guru dengan cara "BERSIUL" ,persis kayak manggil burung kutilang untuk kawin terbang (bukan kawin lari), jadi gini ceritanya.


 
Saat itu pelajaran Kimia sedang berlangsung, materi disampaikan oleh Ibu Arni, ini salah satu guru yang cantik dan suaranya paling seksi di SMAN 6 saat itu, materi disampaikan panjang lebar, kemudian terjadi diskusi yang agak rumit tentang pelajaran kimia yang diajarkan saat itu, sehingga diskusi antara murid dan guru tak dapat terelakkan.namun diskusi panas itu segera berakhir setelah bunyi bel istirahat berbunyi. Yess...



Selesai jam istirahat, pelajaran kimia kembali dimulai yang artinya jam - jam membosankan akan berlangsung kembali, bu Arni menulis sesuatu di papan tulis sambil berkata "ada yang mau bertanya?", Damar mengangkang eh... mengangkat tangan, Damar adalah teman sekelas Jaka Nangrub yang duduk disebelah kanan bangku Jaka Nangrub dan Adit.



Damar tetap mengangkat tangan sambil berusaha memanggil – manggil bu Arni namun karena saat itu Kondisi bu Arni menghadap ke papan tulis dan suasana kelas agak gaduh maka bu Arni tidak menggubris Damar sama sekali, setelah beberapa kali dipanggil dia tidak juga menoleh, maka dengan segala "Insting Aneh" yang ada Jaka Nangrub membantu Damar untuk memanggil bu Arni dengan bersiul keras


 
SUIT...SUIT...

 
Ternyata suara siulan keras Jaka Nangrub berhasil menarik perhatian Bu Arni dan memaksanya menoleh mencari sumber suara,



Bagaikan hyena Afrika kelaparan mencari kijang di padang savana, mata bu Arni yang indah memburu mencari murid kurang ajar yang berani bersiul padanya

kemudian matanya tertumbuk pada seorang anak dalam kelas yang mengacungkan tangan,otak cerdasnyanya langsung membuat hipotesa, "tidak salah lagi bocah ini (Damar) yang bersiul memanggilku". dan Bu Arni berteriak dalam kelas.


 
DAMAR, TIDAK SOPAN KAMU !!!, KAMU YANG BERSIUL TADI YA?

 
Damar yang polos kebingungan sambil berkata "Bukan saya bu, Sumpah !!!" jarinya yang tadi hanya telunjuk bertambah satu jadi dua perlambang ia bersumpah, Bu Arni yang berang gak mau tahu, baginya ini pelecehan besar, Jaka Nangrub yang menjadi pelaku, terdiam tegang, tak berdaya, mampus udah nilai -nilainya jelek sekarang malah menghina guru,(matek kon nang, kapan kapokmu !!!), suasana kelas yang tadinya ramai kayak pasar ikan mendadak jadi hening, kemudian terjadi perdebatan yang lebih sengit daripada perdebatan mata pelajaran Kimia yang tadi di bicarakan, tentu saja dengan pelaku Damar dan bu Arni yang saling ngotot, untungnya Deni, teman sebangku Damar kemudian berkilah bahwa yang bersiul itu anak- anak kelas Sosial yang tepat berada di belakang kelas tempat mereka belajar (kelas Jaka Nangrub berada sebenarnya adalah aula yang disulap menjadi 3 kelas, kelas XI IPA 6, XI IPA 7,dan XI IPS, pemisahnya hanya pintu kayu yang kayak garasi).

Deni menenangkan bu Arni dengan berucap "Anak - anak Sos bu, yang ramai tadi pakai siul –siul juga!", ternyata kata – kata itu manjur untuk menenangkan hati bu Arni, dia jadi tenang, lalu Damar kembali mengajukan pertanyaan yang tadi tercekat di tenggorokannya. dan Jaka Nangrub selamat dari Bu Arni.(maafkan aku Damar, maafkan aku Bu Arni!!!)



Adalagi kejadian bejat yang lain yaitu menuliskan nama pada lembar Jawaban ulangan dengan "Aksara Jawa" kalau dilihat sekilas maka lembar jawaban itu akan terlihat seperti wasiat dari raja syalendra daripada kertas ulangan, tulisannya tentu saja "Anang Rubyanto Asnar",waktu itu ujian Biologi dijaga oleh Bu Supartinah

 
Kertas ulangan dengan dengan nama bertuliskan Aksara Jawa, jawaban ngawur plus gak bermutu diserahkan pada bu Supartini, kemudian Jaka Nangrub kembali ke tempat duduknya, tiba – tiba Bu Supartinah memanggil dengan keras

 
Bu Supartinah : ANANG RUBYANTO ASNAR

 
Jaka Nangrub : saya bu.

 
Bu Supartinah : Ke sini kamu !.

 
"Mampus deh aku" kata Jaka nangrub dalam hati

 
Jaka Nangrub : ada apa bu?

 
Bu Supartinah : Ini bukan pelajaran Bahasa Jawa ya !!!, ini pelajaran biologi, ubah nama mu ini ke bahasai Indonesia, kalau tidak tidak saya terima ulanganmu.

 
Untung aja waktu itu si Jaka Nangrub Cuma disuruh merubah nama yang aksara Jawa menjadi tulisan Indonesia, coba kalau gurunya agak gila mungkin bu Supartinah akan berkata

 
Bu Supartinah : Anang Rubyanto Asnar

 
Jaka Nangrub : Saya bu.

 
Bu Supartinah : ke sini Kamu !.

 
Jaka Nangrub : Ada apa bu?

 
Bu Supartini : kalau kamu suka bahasa Jawa sekalian aja jangan nanggung – nanggung, karena saya mengapresiasi usahamu untuk mempertahankan warisan budaya Jawa, maka saya perintahkan kamu untuk mengubah seluruh jawaban dalam lembar ulanganmu ini kedalam aksara jawa semua, KALAU NGGAK, NGGAK AKAN SAYA TERIMA, gimana?



Bisa mati berdiri jaka Nangrub tuh, la wong kemampuan menulis aksara jawanya ya cuma namanya itu saja, itupun dia gak tahu pasti tertulis dengan benar atau tidak. Ya salam..., tambah hina lagi karena ujian Biologi itu berakhir dengan nilainya jelek pula , haduh.... Udah goblok sok bergaya pula.



Satu lagi hal bodoh yang dilakukan oleh Jaka Nangrub, apakah itu? Teman – teman pembaca sekalian,dengan bejatnya Jaka Nangrub menulis di kertas ujiannya sebuah surat yang ditulis dengan huruf terbalik saat ujian semester dua yang juga berarti ujian kenaikan kelas



Bagaimanakah tulisan terbalik yang ditulis oleh Jaka Nangrub tersebut, berikut contohnya:



"keleJ ailiN ayaS ireB nagnaJ" : "Jangan Beri saya nilai jelek"


Jaka Nangrub berhasil menulis "Surat dengan aksara terbalik" pada beberapa orang guru,satu lembar jawaban berisi rata – rata sebanyak 5 baris, lumayan kan, Isinya adalah mengiba untuk diluluskan darik kelas XI dengan catatan nanti kelas XII akan belajar dengan baik, sebenarnya Jaka Nangrub gak terlalu berharap guru – gurunya itu paham, ternyata guru – guru yang itu dapat memahami semua tulisan – tulisan si Jaka Nangrub



Berawal ketika Jaka Nangrub menunggu di jemput sama si Mama di depan bioskop Mitra, ketika menunggu ia bertemu dengan guru Bahasa Indonesianya yaitu Bu Siti Muntini, Nangrub menebar senyum dan menyapa, dan bu Siti membalas dengan berkata, "Suratmu sudah aku baca nang", sontak jaka Nangrub berkeringat dingin, dan bu Siti hilang berlalu bersama dengan bemo yang menghantarkan ia pulang ke rumahnya.



Tak Cuma bu Siti ternyata, Bu Arni yang sebelumnya juga pernah menjadi objek pelecehan martabat oleh Jaka Nangrub juga bisa memahami arti dari tulisan terbalik yang ada di lembar Jawaban milik Jaka Nangrub tersebut, walhasil di kertas Ujian jaka nangrub ketika di kembalikan ada tambahan catatan,yang ditulis pada baris paling bawah



Bertuliskan

"NGGEDABRUS tok!!!"
(arti: BESAR OMONG DOANG !!!)


Pusing Jaka Nangrub mempertanggung jawabkan kebodohan – kebodohannya, untungnya ia berhasil juga naik kelas XII tentu saja setelah Remidi sana – sini dan waktu penerimaan rapor ternyata jaka Nangrub bukanlah siswa dengan Rangking terbawah, Wow, berarti ada yang lebih goblok dong dari Jaka Nangrub?, pasti mengenaskan hidupnya, bayangkan saja gimana rasanya lebih bodoh dari Jaka Nangrub, kayaknya bodohnya itu udah paling ujung, kalau di kurvakan mendekati nilai tak hingga gitu.

Siapakah siswa yang lebih bodoh dari Jaka Nangrub tersebut, apakah ia manusia?, ternyata yang rangkingnya berada paling bawah itu bukan karena dia bodoh tapi itu adalah murid yang pada tengah semester meninggalkan SMAN 6 Surabaya untuk sekolah di Yogyakarta. Hahaha, Jaka Nangrub tetap juara satu dari bawah.



Saya menghimbau kepada para pembaca untuk tidak melakukan perbuatan – perbuatan bodoh diatas

Yaitu : Bersiul untuk memanggil Guru, menuliskan aksara Jawa pada lembar Jawaban, dan menulis dengan tulisan terbalik.



aynnaitahreP satA hisaK amireT

Rabu, 21 Juli 2010

Jaka Nangrub mencari Jurus!!!


Postingan kali ini akan membahas bagaimana Jaka Nangrub harus berjibaku dengan kebodohan, dan berusaha untuk naik ke kelas XI, ketika ia masih sekolah di SMAN 6 Surabaya.

Jaka Nangrub adalah salah satu murid yang terkenal dikalangan guru, tentu saja bukan karena ia cerdas atau berprestasi di bidang akademik, melainkan karena ia sangat rajin mengikuti "Ujian Ulang" yang memiliki bahasa latin "Remidius Akibatus Nilai Jelekus".


Dengan mengikuti "Ujian Ulang" bukan berarti Jaka Nangrub adalah siswa yang gila mengerjakan soal – soal ujian sehingga merasa tidak puas dengan satu kali ujian,sehingga ia memuaskan dirinya dengan meminta ujian – ujian lagi. "Ujian Ulang" diberikan kepada siswa karena guru yang merasa tidak puas dengan nilai yang terpampang di lembar jawaban siswa yang bersangkutan.


Sudah tidak tehitung jari lagi jumlah Remidi yang harus dilalui Jaka Nangrub pokoknya jari tangan plus jari kakimiliknya sudah tak sanggup lagi untuk dijadikan alat bantu menghitung, andai kata waktu SMA ada kelompok FBR (FANS BERAT REMIDI), sudah barang tentu Jaka Nangrub akan didapuk sebagai pemimpinnya, ibarat kerajaan "Remidi" Jaka Nangrub sebagai Rajanya. Orang tua Jaka Nangrub harus meningkatkan kecerdasan anaknya itu dengan mengirimkan anaknya itu ke LBB lokal, trus ada Guru les privat dipanggil ke rumah, guru ngaji bantuan spiritual, sampai - sampai ikut LBB di Bandung selama kurang lebih 1 minggu selama libur semester 1 kelas X, pake nginep di rumah guru lesnya gitu, mungkin istilahnya "HOMESTAY", selain disediakan pelajaran disana juga disediakan akomodasi dan makan.nama LBB nya tuh "Genius Klub".(baiknya Jaka Nangrub masuk "MORRON CLUB")


Namun karena kebebalan otak Jaka Nangrub untuk diisi dengan pengetahuan yang bermanfaat, sehingga selama "homestay" di Bandung yang ia dapatkan hanya makan - makan, cuci mata ngeliat eneng – eneng geulis Bandung, nggodain anak guru les (sekali lagi,anak guru les, bukan pembantunya!), ilmu yang berhasil didapatkan juga sedikit.

Tiap hari yang ada dipikiran Nangrub hanyalah "Neng geulis macam apalagi yang akan kutemui esok hari?"(utekmu wedok tok cak !, sinawu lah !) iri hati menjangkiti Jaka Nangrub tatkala melihat anak sang tentor yang masih kecil sekitar 3 tahun dibelai – belai dengan mesra oleh siswi SMA Bandung yang konon katanya turunan para bidadari khayangan yang suka kayang (opo seh?), sedangkan Jaka Nangrub,tak ada satupun diantara gadis – gadis itu yang tertarik untuk memberikan belaiannya. (Mengkhayal terus nang!!!).


Semua usaha telah agar Jaka Nangrub dapat masuk Jurusan IPA di kelas XI saat itu, kedua orang tua Jaka Nangrub sudah takut setengah mati jangankan untuk masuk kelas IPA, untuk naik kelas saja sepertinya butuh mukjizat, sampai pada akhirnya Jaka Nangrub diakhir perjuangannya untuk naik kelas membuat perjanjian tak tertulis dengan tuhan,



"Ya Alloh kalo aku naik kelas dan masuk IPA, aku berjanji akan berjalan kaki dari sekolah sampai rumah".

 
Saat itu Jaka Nangrub sekeluarga masih tinggal di Raya Darmo, rumah dinas, tepat di samping Mc Donald. jaraknya kurang lebih 10.000 JJN (Jengkal Jaka Nangrub), dengan asumsi 1 jengkal = 20 cm, jarak sekolah rumah = 2km (gak penting!!!!!). nazar yang dilakukannya ini kurang lebih berjarak 3 bulan sebelum Penerimaan rapor.


Saat itu yang mengambil rapor adalah si Papa, tersiar kabar bahwa dari kelas Jaka Nangrub setidaknya ada 2 orang siswa yang lulus dan masuk ke Jurusan IPS, perasaan takut menjamahi Jaka Nangrub.


Apakah Jaka Nangrub termasuk dalam golongan dua orang itu?

Ternyata eh ternyata pada saat pembagian rapor, Jaka Nangrub dinyatakan lulus kelas X dengan Predikat "Memalukan", dan masuk kejurusan IPA. Jaka Nangrub senang bukan main mencak – mencak senang,kayak tikus kebanyakan makan sabun, Jaka Nangrub juga gak tahu itu hasil keringatnya sendiri, atau ada hasil keringat pembantunya juga (hubungannya apa sama pembantu?).


Ternyata rumor teman sekelas Jaka nangrub yang masuk ke jurusan IPS itu benar, yang satu perempuan karena memang tertarik masuk jurusan IPS sedangkan yang satu lagi karena sial, sangat mungkin rapornya tertukar dengan Jaka Nangrub, "siapa peduli?, yang penting masuk IPA" pikir Jaka Nangrub


Naik kelas XI rasanya kayak lulus SMA, Jaka Nangrub menyalami teman – teman sekelasnya. Tak hentinya ia mengucap syukur dan berterimakasih pada pak Dahlan guru Biologi yang konon katanya merangkap pakar kecantikan rambut


Teringatlah Jaka Nangrub akan janjinya pada Alloh SWT yaitu berjalan dari sekolah sampai rumah, yang jadi masalah adalah sebelum aku nerima rapor kurang lebih sebulan sebelumnya, orang tuaku memutuskan untuk pindah rumah ke Jalan Klampis Anom III no.9 daerah Surabaya Timur, karena rumah yang di jalan Raya Darmo akan dijadikan sebagai kantor cabang oleh Bank Mandiri, sehingga jika dihitung ulang jarak yang harus ditempuh Jaka Nangrub dalam nazar itu berubah dari yang tadinya cuma 10.000 JJM menjadi 6,5 Km atau sama dengan 32.500 JJM. Tiga kali lipat lebih jauh coy !


Mungkin Alloh sengaja memberi lebih banyak cobaan pada Jaka Nangrub, mungkin nazarnya memang kurang, kalau 2 Km Cuma bisa lulus kelas X, 4 Km untuk masuk ke jurusan IPS, dan harga yang harus dibayar untuk naik kelas XI dan masuk jurusan IPA adalah 6 Km.


Saat itu Jaka Nangrub cuma bisa memandang langit sambil memohon pada Allah,



"Ya Alloh aku kan nazarnya di rumah Darmo jadi aku jalan ampe Rumah Darmo aja ya, ya Alloh Pliss !!!"


Tanpa menunggu persetujuan dari Tuhan, Jaka Nangrub memutuskan untuk berjalan dari sekolah hingga rumahnya yang di Darmo, mungkin akan Impas jika Jaka Nangrub berjalan dengan gaya nungging seperti Ayam betina Ambeien pengen bertelor, Nangrub cuma berpikir tuhan maha pemaaf.


Setelah Nazar dilaksanakan Euforia dilanjutkan dengan bermain bersama dengan ERVAN ADITYA P bin Chafid, dan RIKY bin Irzon di Game Station setempat.


Ternyata kondisi kecerdasan Jaka Nangrub saat Kelas XI IPA gak lebih baik dari kelas X, malah tambah ancur lebur seancur – ancurnya paling ancur dalam 3 tahun bersekolah di bangku SMA, mungkin Allah masih dendam karena Jaka Nangrub cuma menjalankan 1/3 nazar doang.tuhan diajak Kompromi sudah gila kamu nang !

Untung aja Jaka Nangrub dulu nazarnya gak terlalu aneh - aneh, coba kalo dia nazar gini



"Kalo aku masuk IPA, aku bakal bertelur di pagi hari sambil berkokok ",


sudah jadi Maskot KFC, atau Restoran "Ayam Goreng Nyonya Suharti" kali dia sekarang



terima kasih untuk Galih yang memintaku mengangkat cerita ini di Blog


 

Senin, 19 Juli 2010

Siksaan Satu Semester


Postingan kali ini akan menceritakan tentang kebodohan yang dilakukan Jaka Nangrub ketika melewati hari – hari pertama di bangku perkuliahan, berikut kisah lengkapnya.

Ospek yang dilaksanakan di ITS umumnya cuma diadakan selama 4 hari, tapi pada kenyataannya senior dengan senang hati telah meluangkan waktunya untuk melaksanakan ospek untuk mahasiswa baru selama 1 semester alias 6 bulan (Argh...), bahkan kalau diperlukan senior tidak segan – segan untuk memberi perpanjangan waktu hingga satu tahun tergantung situasi kondisi (terdengar teriakan hore dari kejauhan, tapi yang jelas itu bukan teriakan mahasiswa baru).

Kenapa bisa sampai terjadi ospek yang berlarut – larut ?, tentu saja karena memebentuk pola pikir siswa menjadi pola pikir mahasiswa butuh waktu lebih dari 4 hari.katanya sih gitu.

Apa saja yang dilakukan senior selama masa ospek 1 semester tersebut ?ada macam – macam umumnya senior mengajak para junior untuk mengikuti kegiatan – kegiatan kemahasiswaan

Macam – macam "kegiatan kemahasiswaan" adalah : merokok, pacaran, nggodain dosen cantik, demo di rektorat, menyerang "Sie Keamanan Kampus", ini kampus mahasiswa apa kampus maling hah?, tentu saja bukan kegiatan macam itu yang disarankan oleh para senior, kegiatan yang dilakukan oleh para Junior adalah kegiatan yang positif dan bermanfaat diantaranya kegiatan "pelatihan manajemen diri", buka puasa bersama, bakti sosial,akan sangat menyesal jika tidak mengikuti kegiatan kegiatan tersebut, karena mumpung masih jadi mahasiswa baru, tugas – tugas belum banyak, waktu luang banyak, saatnya mencari teman dan pengalaman berharga.

Contohnya mengikuti Pelatihan Manajemen Diri kegiatan ini dilakukan bersama dengan jurusan – jurusan lain se fakultas yang artinya kesempatan untuk berkenalan dengan dara – dara ayu dari berbagai jurusan (otakmu cewek tok, tapi gak pernah dapet nang!!!), ada beberapa teman yang memanfaatkan kesempatan ini, salah satunya adalah Zahar(bukan nama sebenarnya), teman Jaka Nangrub ini secara sadar menggebet teman cewek yang ia kenal dari kegiatan Pelatihan Manajemen Diri, sayangnya berakhir pahit karena si cewek udah punya pacar anak yang sekolah – sekolah militer gitu, karena gerakan yang dilakukan Zahar kerap kali dianggap mengganggu sampai – sampai pacar si cewek yang gahar dengan latar belakang "Militer" nelpon dan mendamprat si Zahar. Nasibmu apes le !!!

Pengalam bakti sosial juga cukup memberi kesan, waktu itu para Mahasiswa Baru PWK melakukan bakti sosial ke "LIPONSOS" udah lupa aku kepanjangannya, yang jelas "SOS" dibelakang adalah singakatan dari Sosial, mesti ae lah mosok Sosis !,

LIPONSOS ini semacam lembaga yang menampung orang – orang yang nggak jelas, ada yang asalnya gak jelas, ada yang otaknya udah gak jelas alias gila,wajahnya juga udah gak jelas,masa depan gak jelas, kesimpulannya adalh lembaga ini pas banget untuk tempat menampung Jaka Nangrub !!!, lho?

Bahkan ada beberapa teman meyakini kalau Jaka Nangrub adalah Alumni lembaga sosial ini (mau gimana lagi memang pas sih?) jadi LIPONSOS intinya berguna sebagai tempat menampung "orang – orang nggak jelas" agar tidak berkeliaran di Kota menciptakan keributan dan menyebar kerusakan, diisi dengan orang yang jelas saja kota surabaya udah ruwet, gimana kalo kota ini diisi orang – orang nggak jelas, bisa karam Surabaya !!!.

Bakti sosial yang dilakukan Jaka Nangrub dkk, saat itu adalah bagi – bagi Biskuat (sekumat macan !!!), dan juga sembako kepada ketua yayasan.tentu saja ketua "LIPONSOS" adalah orang yang paling waras dilingkungan itu, yo mesti lah mosok sing paling gendeng ?.

Saat itu Mahasiswa baru dibagi menjadi dua kelompok golongan Adam & Golongan Hawa untuk membagikan "Biskumat" kenapa harus dibagi menjadi dua golongan kelamin, masuk kelompok manakah Jaka Nangrub?.Lho?.

Ternyata pembagian tempat tinggal (baca: Kurungan) di Liponsos dibagi berdasarkan Jenis Kelamin.

Perasaan takut mulai menghinggapi Jaka Nangrub ketika berada didepan pagar kurungan, sudah tampak di balik gerbang putih itu orang – orang nggak jelas dan nggak waras melambai – lambai padanya, diduga kuat mereka kangen dengan Jaka Nangrub yang konon katanya pernah menjadi pimpinan mereka ! ckckck.....

Pintu gerbang kemudian dibuka oleh petugas laki – laki yang juga baru 75% waras, masih menyisakan 15 % nggak waras dan 10 % abstain (emang'e Pemilu ?). dan adegan selanjutnya dapat ditebak, Maba PWK bercampur dengan penghuni Liponsos, Biskumat mulai dibagikan, sebagian penghuni menerima lalu menyimpannya, sebagian penghuni lagi membuka bungkusnya lalu memakannya, dan sebagian yang lain tampak sangat bernafsu makan hingga memakan biskumat sekaligus dengan bungkusnya. Ya salam...

Sebagian Maba PWK mulai mengajak bicara beberapa penghuni yang waras, diantaranya ada anak dari Jakarta yang ke sasar ke Surabaya, luntang – lantung nggak jelas di jalanan, dijebloskan ke LIPONSOS, Jaka Nangrub hanya memandangi tingkah laku orang – orang beberapa diantaranya tidak mengenakan pakaian sama sekali alias Bugil, ya salam ..., ini to jawabannya kenapa kok para Maba harus dibagi dulu berdasarkan Jenis Kelamin.(nggak perlu di jelaskan lagi kan?).

Selain kagiatan – kegiatan di atas senior juga sangat sumringah jika melaksanakan SIDAK

SIDAK adalah "InspekSI MendaDAK", untuk melakukan kegiatan macam ini ada resep yang harus dilakukan sang senior, baginilah kurang lebih cara membuat sidak:

1)Siapkan ruang untuk menempatkan Maba, jika tidak ada kelas bisa di lakukan di ruang dosen, kamar mandi, bahkan rektorat (cari mati nih senior).

2)Siapkan bahan - bahan kesalahan yang akan di limpahkan pada Maba.

3)Siapkan 58 mahasiswa baru planologi 07 yang masih cengeng dan masih suka netek sama bapaknya

4)Siapkan senior sedikitnya setengah dari jumlah junior untuk masuk kelas dan memberi suasana teror, diutamakan Senior – senior yang depresi nggak lulus – lulus, yang PMS, dan yang habis putus, agar efek amarahnya lebih nyata

5)Campur jadi satu.

6)Sidak siap dilakukan selagi hangat, tambahkan chery diatasnya dan juga daun mint(ini mbuat kue ta cak?).



Macam - macam kesalahan - kesalahan yang dapat dilimpahkan senior pada Maba, mulai dari Maba yang jarang menyapa Senior, gak pernah mbayari SPP senior, gak pernah ngasih senior parsel (senior ato preman kampung nang?), pokoknya macam - macam lah, nah saat berhadapan senior pun Jaka Nangrub tak juga luput melakukan kebodohan.



begini kejadiannya:



Sore itu saat kuliah tengah berlangsung Si Komting mendapatkan SMS dari Senior, yang isinya mengatakan "Adk2 jgn plg dl y qt mo mrah2in klian smua, slm syg seniormu muach !"

Dan saat perkuliahan berakhir Si Komting memberi Pengumuman "teman - teman, setelah kuliah ini, kita jangan pulang dulu ada senior mau masuk" (*musik latar neraka dimainkan*).

Lalu muncullah di hadapan Jaka nangrub dkk senior - senior dengan wajah – wajah gaharnya, ada senior yang tinggi gemuk kayak "Beruang Sirkus" yang lain berbadan tinggi dan suaranya ngebass, yang lain seperti pemimpin kaum dhuafa, bermacam – macam rupa dan wajah, tentu saja tidak semua menampilkan wajah gaharnya, beberapa senior masih menampilkan wajah sopan santun yang sudah disetrika dulu dengan rapika sehingga membuat terkesan Maba – maba wanita.

Senior mulai bicara tentang aksesori yang harus dipakai selama masih menjadi mahasiswa baru di jurusan PWK (istilah Maba baru akan terlepas setelah dianggap lulus oleh senior dari ospek yang diprogramkan oleh mereka), setelah "Topi Bola" Jahanam dulu ditolak, Maba PWK menggunakan kain berwarna coklat yang di ikatkan pada lengan sebagai aksesori. senior merasa tidak senang dengan juniornya yang tidak konsisten menggunakan atribut tersebut, dan sialnya Jaka Nangrub termasuk di dalam mahasiswa yang tidak pakai atribut hari itu. (mampus kau nang !!!).

Para Maba dalam keadaan duduk di bangku masing - masing sambil melihat kebawah (padahal gak ada apa -apa), sedangkan senior memberikan suasana yang tidak nyaman dengan berteriak – teriak, menyeletuk - nyeletuk kayak burung gagak birahi.



Sepintar – pintarnya paus berenang akhirnya kelelep juga, mata senior yang awas melihat Jaka Nangrub tidak menggunakan atribut.



Battle on !!!



Senior :
"MANA ATRIBUTMU HEH !!!"



Jaka Nangrub kaget sesaat, kemudian otaknya mulai memikirkan alasan yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan dari senior tersebut.



Jaka Nangrub : ehm... di ... cuci mas ...



Padahal sebenarnya ia tinggalkan di rumah begitu saja



ternyata pertanyaan senior tidak berhenti disitu kemudian senior bertanya lagi



Senior : "NGAPAIN KAMU CUCI HAH!!!"



Sekali lagi Jaka Nangrub berusaha berpikir cepat dengan menggunakan otaknya yang hanya bermesin "Bajaj"



Jaka Nangrub: ehm... biar... tampak indah mas.



Goblok cak, dimana – mana yang namanya di cuci itu biar bersih atau biar wangi, jawaban macam apa itu.



Jawaban "Tampak Indah " itu membuat para Maba nyaris kehilangan kendali diri, terdengar suara "hmpf..." dari mulut mereka
tanda menahan tawa.

Senior yang tidak ingin kehilangan suasana mencekam melakukan manuver menyerang Jaka Nangrub secara bersama – sama, dengan perkataan.



JANGAN MAIN – MAIN KAMU HEH !!!

 
Dan sekali lagi Jaka Nangrub berkilah dengan menjawab "saya gak main – main mas"

Setelah ceramah dan khotbah yang di tutup dengan sholat 2 rakaat, LHO sholat Jumat ta?, SIDAK sore hari itu selesai.

Ajaibnya waktu Jaka Nangrub cek di rumah dan bertanya pada mama perihal keberadaan aksesori kain coklat busuk yang berbentuk segitiga itu, ternyata oleh mama benar - benar telah di cuci, dengan demikian berarti Jaka Nangrub tidak bohong.

Mungkinkah lidah Jaka Nangrub ajaib?, sehingga yang ia katakan hari itu jadi nyata adanya, andaikata benar sebaiknya ia menjawab ,"itu mas di Cuci ama Gita Gutawa, biar indah", dan ketika diperiksa di rumah ternyata gita Gutawa tengah ditemukan di kamar mandi sedang nyuci kain coklat kumal itu dengan papan cucian (ngayal terus sampai mati !!!).



Demikian kebodohan yang dapat dikisahkan semoga dapat memberikan manfaat bagi yang membaca, dan mendatangkan laknat bagi yang menulis, WOW !!!






 

Sabtu, 17 Juli 2010

Petaka “Topi Bola”


Pada postingan kali ini akan dikisahkan hari – hari tak terlupakan yang dialami oleh Jaka Nangrub dan teman – temannya ketika menjalani "Ospek", perbuatan Bodoh apa yang mereka perbuat di tahun 2007 simaklah kisah berikut ini.

Jika mendengar kata Ospek tentu pikiran kita akan langsung mengarah pada siksa duniawi yang diberikan oleh senior kepada junior sebagai bentuk "pendewasaan" (katanya sih gitu), tapi sebenarnya kalau sudah menjalani ospek ada semacam Anomali didalamnya ospek, ospek itu "Senang tapi gak mau kalo di suruh ikut lagi", atau "Kesenangan yang tak ingin terulang"(Puitis banget cak?).

Ada beberapa hari sebelum Ospek dilaksanakan, hari – hari itu dimanfaatkan oleh senior untuk memberikan tugas – tugas pada Junior, yang nantinya harus dibawa oleh Junior dan diperikasa oleh senior pada ospek hari pertama.(mbulet ae'cangkemmu)

Untuk menyelesaikan tugas – tugas tersebut maka para mahasiswa baru (Maba) PWK ITS sepakat untuk berkumpul di basecamp alias rumah Jaka Nangrub.

Satu keuntungan rumah Jaka Nangrub jadi basecamp adalah : dia gak pernah disuruh - suruh untuk beli – beli barang ke luar, masak yang punya rumah gak ada di rumah. paling si Nangrub Cuma ditanya – tanyain "Nang punya Gunting gak?", "Nang punya spidol?", "Nang punya pensil", "Nang punya penggaris", lama – lama si Nangrub ngerasa kalau rumahnya lebih mirip sama Stationery alias toko penjual "Alat Tulis Kantor"

Padahal si Nangrub mengharap ada teman perempuannya yang manis bertanya "Nang kamu punya pacar ?, jadian yuk"(ngayal terus !!!...) atau teman kaya yang bertanya "Nang kamu punya Helikopter gak, aku beliin ya?"(wow !!!...)

mungkin malah mereka sebenarnya ingin bertanya "Nang punya harga diri nggak, kok kamu gak pernah kerja sich, gak malu ama temen yang lain apa?"
dan juga "Nang, kamu pernah ngemut sandal gak?, kerja dong!".

Dan entah kenapa Jaka Nangrub jarang sekali disuruh membantu mengerjakan tugas – tugas ospek dari senior yang seabreg. ada 2 alasan yang paling masuk akal untuk menjawab pertanyaan "mengapa mereka jarang menyuruh Jaka Nangrub mengerjakan tugas - tugas senior tersebut?".


1. Hanya dengan melihat tampang cabul Jaka Nangrub yang seolah berkata "Aku gak becus melakukan apapun, suruh orang lain aja", mereka yakin bahwasannya gak akan tambah beres tugas – tugas yang diberikan senior, tambah ancur pasti !

2. Mungkin mereka sungkan karena Jaka Nangrub telah memberikan mereka tempat bernaung untuk berkumpul, dengan mengorbankan rumahnya diacak – acak sedemikian rupa, masak masih harus ngerjain tugas yang lain – lain. 


Tugas - tugas dari senior tentu anehnya bukan main kalau tidak dicerna dengan baik, tapi kalau dipikir – pikir lagi masuk akal kok, yang jelas tugas yang diberikan tidak lebih sulit daripada tugas yang diberikan pada "Tong Sam Cong" untuk mengambil kitab suci bersama "Sun Go Kong","Cu Pat Kai" dan "Wu Cing" (kebanyakan nonton kera sakti cak) 


Tugas yang paling celaka yang diberikan oleh senior pada Jaka Nangrub dan teman – temannya adalah tugas untuk membuat Aksesori khas Mahasiswa Baru (Maba) PWK ITS 2007, jika sekarang disuruh mengingat hal itu niscaya mereka akan tertawa, terkenang dengan kebodohannya yang telah lalu. 


Maksud senior memberikan tugas membuat "Aksesori Khas" ini jika dipikir – pikir dengan otak (yo mesti ae' mosok dengkul, awakmu la'an nang?) ada baiknya, para senior takut kalau adek - adek kelasnya ketuker ama adek kelas jurusan lain kalo gak punya aksesori yang dijadikan pembeda, ya walaupun sampai sekarang diyakini senior – senior jurusan PWK saat itu sangat mengharapkan adek –adek kelasnya tertukar dengan adek kelas dari jurusan Arsitektur atau Teknik Lingkungan yang jauh lebih beradab. Iya bersyukur kalo ketuker ama mahasiswa baru jurusan lain, lha kalo ketukernya ama Seksi Keamanan Kampus (SKK), repot jadinya.khkhkh.


Saat itu Jaka Nangrub dan teman – temannya memutuskan untuk menjadikan topi sebagai aksesori,topi dipilih sebagai aksesori khas karena saat itu kriteria yang diberikan oleh senior untuk aksesori adalah "harus terlihat dari jarak jauh", untung aja gak "harus tercium dari jarak jauh" Kalo kriterianya gini sih mungkin Maba PWK saat itu akan terlihat memakai "Pispot Portable" di kepala sebagai aksesori. Yekk... 


Awalnya Jaka Nangrub dan teman - temannya memutuskan untuk menjadikan topi yang kayak anak sekolahan sebagai "aksesori khas maba PWK", agar khas Topi yang digunakan adalah topi berwarna Coklat, kenapa coklat? karena coklat adalah warna khas Jurusan PWK ITS, namun ide itu segera dimentahkan oleh seorang hamba Alloh yang muncul secara tiba – tiba dengan rambut keribo gak aturan yang menyerupai brokoli goreng tepung, sebut saja "Dewangga Putra Adiwena" (bukan nama sebenarnya).
 
Dewa: "ngapain kita membuat topi kayak gitu, mahal harganya"

Maba PWK 07: terus apa solusimu?

Dewa: gimana kalo kita buat Topi dari bola plastik aja !!!.


Dan Jaka Nangrub beserta teman – temannya tersihir untuk mengikuti sugesti yang diberikan Dewa (kehendak dewa tak terbantahkan !!!), topi bola yang diputuskan bersama sebagai aksesori PWK ITS 2007 itu nantinya menjadi sebuah keputusan yang akan mereka tertawakan seumur hidup mereka.


Berikut adalah penjelasan tentang cara membuat topi bola:


1)Beli bola plastik lima ribuan yang dijual di warung – warung (jangan coba – coba nyari bola plastik merek Adidas, atau Nike, gak percaya?, coba aja !)

2)Belah bola jadi dua sama besar, sehingga membentuk setengah bola.

3)Beri bolongan kecil pada bagian samping "topi" berbentuk setengah bola, sebagai tempat mengaitkan tali.

4)Beri tali sebagai pengait, tali bisa terbuat dari rafia jangan coba – coba pake tali kolor, sayang kolornya

5)Beri warna coklat pada topi dengan cat Pylox sebagai warna khas PWK ITS.



This is it !!!, topi bola ospek PWK 2007 ala Chef Parah Quit (topi bola atau makanan sih?)


Fakta menunjukkan topi yang tercipta lebih berbentuk seperti helm prajurit perang dunia dari pada topi, dan warna coklat yang digadang – gadang sebagai warna topi malah jadi warna kuning emas.(kok bisa ketuker gitu sih?)

Senior sempat tanya sehari sebelum ospek dimulai kepada "Komting" perihal aksesori yang dipakai


Senior : Halo, gimana aksesorinya?

Komting : udah mas, ini sedang dibikin!

Senior : Kalian makai apa untuk aksesori?

Komting : Topi mas, Topi PWK warna Coklat, pokoknya pasti kelihatan dari jauh kayak yang mas inginkan deh !


Saat itu para Maba PWK mengelu – elukan si Komting yang tidak mengatakan kebenaran dari "Topi PWK" yang terbuat dari Bola Plastik seharga lima ribuan, dengan indahnya ia yakinkan senior kalau Topi yang mereka buat akan memuaskan hati para senior, saat Jaka Nangrub dan teman – temannya merasa telah berhasil menipu para senior "Halah..., senior PWK ternyata gak pintar – pintar amat !" pikir mereka saat itu. 


Malamnya Jaka Nangrub dan teman – temannya berjibaku membuat "Topi Bola", ada yang sibuk membelah Bola Jadi dua , ada yang mbolongin pinggir bola dengan paku, ada yang masang tali di Topi, ada juga yang ngecet topi pake pylox, yang lain ngerjain tugas – tugas yang lain, membuat buku, keplek tanda pengenal dan lain – lain, ada juga yang mulai TePe - TePe nyari pasangan hidup (bisa – bisanya dia situasi seperti ini !!!, yang jelas pelakunya bukan Jaka Nangrub). 


Hari pertama Ospek dimulai, semua berjalan lancar – lancar saja, Jaka Nangrub dan teman – temannya luntang – lantung dijalanan berbaris dari "Graha ITS" menuju kampus dengan memakai baju kaos lengan panjang warna putih, celan jeans hitam, sepatu hitam polos tanpa merk, semua tampak biasa saja, Tapi "Topi Bola" membuatnya jadi luar biasa, benda setengah lingkaran dikepala itu menjadikan barisan Jaka Nangrub dan teman – temannya lebih mirip Barisan "Alat Kelamin" dari pada barisan mahasiswa, Ya salam..... 


Mulai pagi hingga siang hari acara ospek berjalan lancar tanpa duka dan air mata, beranjak sore hari ketika matahari mulai akan terbenam Maba PWK di bariskan di lapangan pembantaian dengan "Topi Bola" di kepala pastinya, andaikata saat itu ada orang yang matanya katarak lewat mungkin udah pingsan, mengira kalau ada "Alat Kelamin" di jemur disalah satu institusi pendidikan terkemuka di Indonesia, Mau jadi apa Indonesia pikirnya.


Suasana hening sejenak, seperti lautan ketika "Posseidon" akan kentut, tenang, damai..., lalu terdengar suara sirine TOA menyalak nyaring NGUING.....,andaikata Jaka Nangrub pernah jadi banci jalan Irba udah trauma kali dia, lari tunggang langgang ngira ada razia oleh satpol PP.(kalo pernah.....).  
Gerombolan Senior masuk kebarisan "Maba PWK" dan mulailah mereka manyalak – nyalak dalam barisan,



Gerombolan Senior :SIAPA KALIAN !!!

Gerombolan MABA : Mahasiswa Baru PWK kak !!! (dengan nada takut dan gak tegas)

Gerombolan Senior : Gak Kompak Blass (baca:tidak kompak sama sekali)

Gerombolan Senior:APA YANG MEMBEDAKAN KALIAN DENGAN MABA YANG LAIN HAH, MANA AKSESORI KALIAN HAH !!!

Gerombolan MABA:ini mas (Sambil nunjuk "TOPI BOLA")

Gerombolan Senior:HAH, KALIAN BILANG ITU AKSESORI HAH ?, KALIAN BILANG ITU TOPI HAH ?, INI BUKAN PERPELONCOAN DEK!, KALIAN BUKAN BADUT, BLAH... BLAH... BLAH...

Sore itu Maba PWK yang mengira telah berhasil menipu senior dengan Aksesori ultrakonyol "Topi Bola" harus menanggung amarah dari senior – seniornya, tak hanya itu "Topi Bola" pun dengan sukses di lucuti dari kepala – kepala dengan gaya rambut seragam berpotongan cepak 0,5 mm. Dan mereka berkewajiban membuat aksesori baru. Ya salam


Setelah puas meluapkan segala amarahnya para senior meninggalkan barisan Maba sambil berteriak "Vivat", sebagian yang lain menghapus buih yang keluar dari mulutnya karena kebanyakan teriak – teriak gak jelas, mungkin diantaranya ada yang mengidap rabies atau ayan, siapa yang tahu?


Karena saat itu kendaraan tidak diizinkan untuk digunakan ke kampus maka sukseslah rombongan maba PWK sore itu berjalan dengan kedua kaki dari Kampus hingga ke Basecamp dengan jarak kurang lebih 8333 jengkal. 


Dengan asumsi :

(1 jengkal = 24 cm , asumsi jarak kampus dan basecamp 2 km = 200.000 cm) jadi jarak kampus kerumah samadengan 200.000 / 24 : 8333,33 jengkal (gak ada kerjaan lain apa nang?)
Selama diperjalanan itu dimanfaatkan Jaka Nangrub dan temannya untuk menghujat – hujat senior , 


Jaka Nangrub : "itu senior ada yang kayak joker (musuhnya batman) lebar bener mulutnya ya?

Maba 2 : "iya bener nang ! kayaknya sepatu Fantofel ku cukup masuk kemulutnya tuh !",

Jaka Nangrub : ho'oh ada juga senior yang mirip banget ama Batistuta (Batistuta di gunakan untuk memperhalus penyebutan salah satu nama tuhan),

Maba 2 : "iya, ya paling dia tuh udah lama gak lulus – lulus, liat aja brewoknya udah nyambung sampai bulu kaki, gak tahu itu mahasiswa apa Babon ?".

Ada juga teman si Jaka Nangrub yang menghemat energi dengan tidak menghujat senior namun berusaha nyari tumpangan karena udah gak kuat jalan dengan mengacung – acungkan jempol di jalanan, kayak di film – film barat itu lo. Hasilnya? jelas aja nihil. bayangkan saja wajah jorok membungkus wajah setengah kriminal plus bau sangit matahari campur keringat diketiak menyelimuti tubuh, orang waras mana yang mau ngasih tumpangan coba?. 


Sekian cerita ospek yang bisa diceritakan, untuk yang mahasiswa baru dimanapun kalian berada jalani aja semua rintangan yang diberikan senior kalian malah nyesel kalo gak ikut, pengalaman sekali seumur hidup tak akan terulang.


Jaka Nangrub dan Rok (bukan milik)Bidadari


Cerita kali ini akan membahas bagaimana Jaka Nangrub secara sadar membuat keputusan bodoh untuk menyerahkan rumahnya sebagai basecamp mahasiswa baru PWK ITS 2007 untuk mengerjakan Tugas – tugas dari senior selama masa Orientasi Mahasiswa Baru(OMB),serta kebodohan – kebodohan yang menyertai keputusan tersebut berikut kisahnya.

Lega sudah perasaan Jaka Nangrub setelah terdaftar sebagai mahasiswa di ITS, namun bukan berarti Jaka Nangrub bisa berleha - leha sambil menari hula - hula dengan suka ria, satu hal yang menjadi "Mimpi Buruk" ketika menjadi Mahasiswa Baru ITS adalah kegiatan "Pengkaderan bin OSPEK bin Orientasi bin Siksaan Senior" yang wajib ada setiap tahunnya


Sudah bukan rahasia lagi bahwa acara - acara macam ini akan membawa kesengsaraan lebih untuk mahasiswa baru, dan saat itu Jaka Nangrub dan teman – teman mahasiswa barunya yang POLOS hanya bisa menerima dengan lapang dada segala dera siksa yang menimbulkan tetes air mata. Diambil positifnya aja lah, "Hidup Memang Kejam" dan pengkaderan cuma simulasi dari sekelumit "Kekejaman Dunia".


Pertemuan pertama Jaka Nangrub dan teman – temannya dengan senior adalah ketika mereka mengerjakan TPA (Tes Potensi Akademik),senior masuk kelas, wajahnya baik – baik, satu dua orang terlihat cool (baca: Ja'im), sebagian bersenda gurau, dan sebagian lagi dengan serius memperkenalkan diri sekalian TePe – TePe (Baca:Menebar pesona didepan Mahasiswa). 


Para senior menyarankan untuk pembentukan pengurus angkatan yang terdiri dari KOMTING (Komandan Tingkat, kayak Ketua Kelas kalo di sekulah) dan para begundalnya seperti wakil,sekretaris,dan bendahara.


Komting adalah jabatan yang diberikan oleh teman – teman seangkatan kepada seorang mahasiswa untuk mengemban tugas membawa hidup mahasiswa satu angkatan sejurusan menuju kehidupan kampus yang baik, itu sih idealnya, tapi kondisi dilapangan menunjukkan bahwa Komting adalah manusia yang secara sadar dijadikan dan mau menjadi tumbal atau seserahan bagi teman – teman satu angkatan untuk menghadapi senior – senior yang kadang bertingkah buas beringas (makan tuh Jabatan).


Senior bertanya "Siapa yang mau Jadi Kambing eh... Komting maju kedepan!!!", Jaka Nangrub yang paham betul potensi dirinya yang luar biasa tentu saja secara gentle duduk terdiam di kursinya!, jelaslah Potensi besar yang dimiliki Jaka Nangru hanyalah berbuat hal – hal bodoh dan menimbulkan kekacauan besar dengan efek berantai. 


Untung saja Jaka Nangrub saat itu tidak maju, bayangkan jika hal itu terjadi, bayangkan jika Nangrub yang bahkan memimpin diri sendiri saja masih kacau balau diberi tanggung jawab untuk memimpin 57 orang teman satu angkatan, samalah dengan mendudukan seorang buta di kursi supir Bis untuk mengantarkan penumpang Bis selangakh lebih cepat terjun bebas ke jurang - jurang terdekat. 


Saat pemilihan ketua itu tersebutlah 3 orang manusia dengan latar belakang yang berbeda - beda,dari daerah yang berbeda – beda, mereka berkampanye layaknya seorang lurah ingin memimpin negara,tentu saja pemilihan Komting ini berjalan tidak objektif karena para mahasiwa baru saat itu baru bertemu beberapa menit saja, kampanye Cuma lima menit, yang jadi acuan pemilihan paling ya cuma wajah dan omongan yang meyakinkan, itu saja.

Setelah diadakan PEMILKOM (Pemilihan Komting) yang untungnya tidak disertai dengan kerusuhan dan anarkisme, emang Pemilihan Kepala Daerah?, terpilihlah satu anak mahasiswa yang tinggal dipesisir yang bernama "Anggaditya" namun karena jabatan yang melekat padanya maka ia lebih sering dipanggil dengan sebutan "Komting nakal suka mencuri ketimun"(emang kancil?)


si Komting terpilih melakukan pidato kemenangan, dan yang kalah duduk kembali dikursinya semula. Setelah Komting terpilih, berikutnya adalah pemilihan "basecamp"(baca:beskem), basecamp mutlak dibutuhkan setiap angkatan karena akan digunakan sebagai tempat untuk berkoordinasi dengan teman – teman satu angkatan selama Orientasi Mahasiswa Baru guna menyelesaikan tugas – tugas yang diberikan senior secara berkelompok, jangan harap bisa mengerjakan tugas – tugas yang diberikan secara Individual, gak mungkin, percayalah. 


Tahu bahwa menjadikan rumah sendiri sebagai basecamp adalah tindakan bunuh diri yang jika dianalogikan sama dengan memasukkan Hyena Afrika kelaparan kedalam rumah, maka Jaka Nangrub yang rumahnya sebenarnya cukup memenuhi syarat sebagai basecamp secara sadar tidak memasukkan rumahnya dalam nominasi "Di manakah Basecamp anak PWK 2007".


Namun seiring dengan berjalannya pembicaraan,dan ternyata rumah yang digadang – gadang bakal jadi basecamp adalah rumah dari Komting sendiri, padahal rumah KOMTING letaknya cukup jauh.


Jaka Nangrub mulai berpikir setelah lama otaknya gak diajak berpikir, terdengar suara suara mesin bajaj menyalak tanda otak Jaka Nangrub sedang bekerja. *grok.... grok....grok....grok.....grok...... 


Bulat sudah keputusannya, buah pikiran Jaka Nangrub menghasilkan keputusan yang mungkin bakal ia sesali seumur hidupnya "menjadikan rumah sebagai basecamp" 
Dan untuk mendukung keputusannya ini maka ia teleponlah "Sing Bahoerekso" (baca: yang punya kuasa) atas rumah, siapa lagi kalo bukan Mamanya sendiri.


Jaka Nangrub: halo ,mama boleh gak rumah di jadikan tempat ngumpul temen – temen ma

Mama : boleh, emang berapa temenmu yang mau main kerumah?

Jaka Nangrub : ehm jangan marah ya ma, 58 anak.

Mama: hah... banyak banget (itu mau main ke rumah apa bedol desa?)

Jaka nangrub : mau gimana lagi ma, soalnya rumah kita memenuhi syarat untuk dijadikan tempat berkumpul ma, boleh nggak ?

Mama: ..... (shock berat).

Jaka Nangrub: Halo, mama gimana ma?, kalo gak boleh aku omongin ke teman – teman nih.

Mama: yaudah, mama harus nyediakan apa nih?

Jaka Nangrub: gak usah nyediain apa – apa ma, ruang dan udara aja cukup kok.

Mama: bener lo ya.

Jaka Nangrub : iya ma, Cuma 4 hari aja kok

Mama: hah... (tambah shock)



Setelah diajukan lobi – lobi sampai Si Mama setuju, dan Akhirnya resmi sudah rumah Jaka Nangrub jadi Basecamp PWK ITS 2007.

Malam pertama teman – teman PWK 2007 ngerjain tugas di rumah Jaka Nangrub, 1 asbak Kristal si Mama pecah. Si Mama hanya bisa mengelus dada. "Baru satu malam saja sudah pecah satu kristal, gimana kalo 4 malam, kulkas, TV, perabotan, Suamiku" mungkin itu adalah pikiran yang ada dalam benak si Mama saat itu.

Menjadikan rumah sebagai basecamp ada dampak positif dan negatifnya

Dampak positifnya antara lain :


1)Yang punya rumah pasti dikenal, ya iyalah masak udah numpang dirumah orang tapi gak tahu orangnya yang punya rumah mana? (terus apa untungnya dikenal nang?),


2)Kalau rumah dijadikan basecamp artinya kita gak takut disuruh – suruh keluar rumah untuk beli – beli barang, masak yang punya rumah ninggalin rumah?, sungkan tamunya!


3)Mau makan mau minum bisa gratis gak sungkan, rumah sendiri ini suka – suka aja.



Selain punya dampak positif tentu saja ada Dampak Negatif yang menyertai keputusan ini antara lain


1)Rumah berantakan gak karuan, pasti!, bayangkan saja memasukkan 58 manusia yang baru beranjak dewasa dalam 1 rumah yang besarnya gak seberapa.


2)Keributan dan keramaian, 1 suara bisik – bisik tidak terdengar, bayangkan 58 orang berbisik secara bersamaan, kayak suara lebah minta kawin.


3)Keleluasaan gerak anggota keluarga lain terganggu, 5 orang manusia dalam satu rumah terasa lenggang dan lega,kentut sembarangan asal gak langsung dimuka orang lain aja gak bakal protes, sekarang 58 orang nyaris 12 kali dari jumlah normal, tiap sudut ruangan sudah ada penghuninya yang ngerjain tugas, ada yang ngobrol – ngobrol, ada yang nyantet senior (wow!!!), mau kentut sembarangan!, ya sungkan lah!, akhirnya masuk lagi jadi sendawa, yek....


4)Banyak barang – barang haram tertingal dirumah.



Faktanya menunjukkan bahwa rumah benar – benar kacau balau setelah di tinggali untuk mengerjakan tugas dalam satu malam, kalau gak percaya tanya aja ama pembantu rumah tangga si Jaka Nangrub yang teriak – teriak histeris dalam hati ketika di suruh si Mama membersihkan rumah.



Setelah 4 hari OMB ternyata banyak barang – barang yang tertinggal di rumah Jaka Nangrub, ada yang ninggalin Shampo MeTal (Merawat Total) di kamar mandi, pensil, bulpen, kertas kececeran (baca: tergeletak tanpa pemilik) dilantai, malah tambah banyak barang si Nangrub, ada juga puntung rokok yang ngambang di kloset rumah pagi hari waktu OMB hari pertama (sampai sekarang gak tahu siapa yang melakukan perbuatan laknat tersebut).untung aja gak sampai ada bangkai salah satu teman korban pengkaderan yang tergeletak di rumah (ekstrim cak!)



Barang tertinggal yang paling parah itu mungkin "Rok pendek warna hitam" yang ketinggalan di rumah si Jaka Nangrub, logisnya kalau ada Rok yang tertinggal berarti ada satu perempuan teman Jaka Nangrub yang pulang tanpa menggunakan rok! Hih..... serem..... (ojok ngeres otakmu! gak nggawe rok, tapi nggawe celana lak iso cak! = jangan ngeres otakmu!, gak pake rok tapi pakai celana kan bisa). untung gak Celana Dalem yang ketinggalan.


Si Mama yang tahu keberadaan Rok itu waktu bersih – bersih segera memberikan barang bukti ke pada Jaka Nangrub untuk diserahkan pada pemiliknya,


Si Mama : Rob, ini roknya siapa to?

Jaka Nangrub : bukan punyanya adek ta ma?

Si Mama : Bukan rob, ini pati punya temenmu

Jaka Nangrub : ya ntar aku kasih tahu temenku

Si Mama : sana bawa ke Kampus aja daripada menyebabkan fitnah



Emang apa yang bisa dilakukan sepotong rok?



Di bawa ke kampuslah "Rok Pendek Hitam Tak Bertuan" oleh Jaka Nangrub dan selesai kuliah si Jaka Nangrub maju kedepan kelas sambil mengkibarkan "Rok Pendek Warna Hitam Milik Orang Yang Tidak Dikenal" di depan kelas persis kayak kapten Tsubasa waktu jadi juara sepak bola, dan hasilnya tidak ada satupun pria yang mengaku!!!, ya iyalah kalo ngaku berarti ada yang hombreng dong!, akhirnya barang bukti dibawa salah seorang teman Nangrub dari golongan hawa untuk diamankan, mungkin yang punya malu – malu untuk mengaku di hadapan kaum adam. Iyalah masak ninggalken rok dirumah laki – laki wanita macam apa itu?

Basecamp juga bisa mempengaruhi pikiran para tetangga, bagaimana bisa?, ternyata banyaknya Mahasiswa yang nyamperin rumah menyebabkan para tetangga berpikiran kalau si Mama adalah dosen

Nyonya Tetangga : Bu, Ibu itu dosen ya?

Si Mama : ah enggak kok.

Nyonya Tetangga : la kok rumah ibu sering didatengi mahasiswa?

Si Mama : Itu teman anak saya bu!


Alhamdulillah masih dikira Dosen, untung gak dikira buka praktek PITRAT (Pijat Aurat), karena ngeliat banyak pria yang telanjang dada di depan rumah, padahal cuma kepanasan dan gerah di dalam rumah.

Demikianlah cerita dari Jaka Nangrub semoga pembaca bisa memetik pelajaran dari kisah ini.


Jurusan Rahasia


Postingan berikut akan menceritakan sekelumit kisah perkenalan Jaka Nangrub dengan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan yang menjadi pilihannya untuk menuntut ilmu, berikut kisahnya



Kuliah di ITS, siapa yang tidak bangga? salah satu PTN di surabaya yang juga merupakan PTS (Perguruan Tertinggi di Surabaya, jangan ada yang protes!) ini tampak menggeliat dan mulai menelurkan manusia - manusia cerdas dan berpengaruh di Indonesia, Makhluk – makhluk berprestasi itu antara lain.


1) Hermawan Kertajaya mahaguru "pemasaran" ini merupakan hasil pendidikan prematur dari ITS jurusan teknik elektro (kalo gak salah yo ngawur), kenapa Prematur?, karena tidak sampai lulus kuliah beliau meninggalkan ITS tercinta untuk kemudian berkuliah salah satu PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Surabaya.


2) Handy si Tukang Kebab yang menjajakan kebab BABA RAFI dan membuka kios Kebab dimana – mana, dan menurut pandangan saya juga sebagai biang menjamurnya "franchise usaha" di Indonesia saat ini, kebab franchise, es pisang ijo franchise, bahkan yang saya tidak habis pikir "Cireng" alias "Kanji Goreng" yaitu jajanan yang dapat kita temui di depan sekolah dengan modal wajan jelek dan minyak warna coklat kehitaman juga turut menggunakan sistem franchise, mungkin suatu ketika akan ada pengamen franchise, dan pemulung franchise.siapa yang tahu?



Bung handy ini juga sempat kuliah di ITS jurusan Informatika, ya lumayan lah jurusannya nyerempet - nyerempet ama kerjaannya jualan kebab (Jambos,nyerempet dari mana cak?).

maka kesimpulan dari 2 tokoh di atas adalah jika ingin jadi orang sukses, berkuliahlah di ITS dan jangan di selesaikan, karena kalau di selesaikan hanya akan menjadi pegawai dan berakhir membusuk di kantoran.(berani coba?, resiko di tanggung pembaca !)



Mikirnya sih gini aja, lha wong nggak lulus aja udah bisa jadi orang sukses kok, gimana kalo lulus, tambah sukses pastinya. Amin

Kebanggaan yang sama dirasakan juga oleh Jaka Nangrub, bagaikan mimpi rasanya bisa masuk dan berkuliah di ITS, dengan segala keterbatasan otak yang dimilikinya, "ini pasti mukjizat Alloh SWT" pikirnya, bahkan Masnya si Jaka Nangrub yaitu Mas Dana sering berkata "paling itu scannernya error waktu itu jadi jawabanmu yang harusnya salah jadi bener", atau "paling kuotanya di PWK lebih banyak dari yang milih jadi walaupun nilaimu ancur, ya bisa masuk". Anjing menggonggong, Khafillah bernafsu eh berlalu.Jaka Nangrub tak pernah peduli yang penting masuk ITS lewat kerja keras sendiri.



Hari itu Jaka Nangrub hendak mengunjungi Kampusnya, karena ada kegiatan TPA bukannya si Jaka Nangrub tobat dan mau ngaji Al – Qur'an, karena TPA bukan lah Taman Pembacaan Al – Qur'an, tapi TPA adalah "Tes Potensi Akademik", sempat terbersit dipikiran Jaka Nangrub "jangan – jangan kalo nilai TPA jelek nanti di keluarkan dari ITS, pendaftaranya di batalkan karena terlalu idiot untuk mengenyam perkuliahan di ITS". Untungnya nggak sampai sekarang Jaka Nangrub masih berkuliah di ITS.

Berangkatlah Jaka Nangrub saat itu dengan perasaan berdebar – debar ditambah dengan rasa penasaran,



Dimanakah kampus PWK berada?


Kata orang – orang sich, jurusan PWK letaknya dekat dengan Jurusan Arsitektur, "maknyus nih" pikir Jaka Nangrub, kabar burung (gak tau burungnya siapa?) berkata bahwa ITS adalah gudangnya Mahasiswi – mahasiswi "manis (ditambah) Imut (dikali) sexy (pangkat) kaya (x) Cantik = mata termanjakan (plus) badan terasa ringan (dikali) celana kesempitan (makanya beli celana yang longgaran!).



Jelas gak salah kemaren milih jurusan PWK, kalo deket ama jurusan Arsitektur jelas makanan batin akan tercukupi (batin yang membutuhkan belaian kasih sayang wanita) sekedar informasi saja Arsitektur adalah salah satu jurusan di ITS yang menjanjikan jumlah wanita dengan kualitas "super" di institut yang masih didominasi golongan pria.


Berangkatlah Jaka Nangrub dengan menggunakan "Kamasupra" (sepeda motor Honda Supra X 110 CC tahun 2010, bekas mas Dana), sampailah ia pada Jurusan Arsitektur, Jurusan ini dapat dikenali dengan mudah karena ada palang – palang tanda yang memberitahukan keberadaannya, tapi dimanakah jurusan PWK tercinta???, mata Jaka Nangrub memburu mencari - cari palang bertuliskan nama "Jurusan PWK" di sekitar palang nama "Arsitektur", tapi tak dapat ditemukannya.

terbersit dalam benak Jaka Nangrub "mungkin jurusan PWK adalah jurusan yang "rahasia" atau low profile (nggak sombong) sehingga tidak ingin keberadaanya terlalu menarik perhatian banyak pihak", besar rasa bangga pada rongga dada Jaka Nangrub yang sudah disesaki dengan 2 biji paru - paru, mungkin juga PWK ini adalah JURUSAN RAHASIA, sebagai mana kita ketahui bahwa JURUS RAHASIA adalah jurus yang disimpan seorang pendekar karena paling pamungkas, "keren banget nih jurusan" pikir Jaka Nangrub .

Karena tak juga mengetahui keberadaan dari Jurusan PWK akhirnya Jaka Nangrub mencoba menghubungi teman yang juga masuk Juruswan PWK via telepon selular.





Jaka Nangrub : Laho, eh Jurusan PWK dimana sih, katanya deket ama Arsitektur, ini aku dah di depan Arsitek nih!

Teman Nangrub : masuk aja ke jurusan Arsitektur !

Jaka Nangrub : Terus parkirnya dimana?

Teman Nangrub : ya di arsitek itu, ada tempat Parkir nya kok

Jaka Nangrub : Okey.



semakin penasaran Jaka Nangrub bahkan tempat parkirnya pun harus di samarkan dengan jurusan arsitektur, khayalan Jaka Nangrub melayang "jangan - jangan ruang kuliahnya di bawah tanah lagi". Sangking rahasianya,Keren !!!.

di depan tempat parkir telah berkumpul seonggok mahasiswa, berdiri seperti menunggu bis jemputan, tanpa memperdulikan mereka, Jaka Nangrub langsung memarkirkan "Kamasupra" ke tempat perkir yang tersedia.

Setelah "Kamasupra" di parkirkan, berbaurlah Nangrub dengan mahasiswa - mahasiswa yang tadi tampak tengah menunggu bis, dengan wajah congkak karena merasa jurusannya adalah Jurusan yang pamungkas dan rahasia) nangrub masuk kedalam kerumunan itu. dan mulailah ia berkenalan dengan mahasiswa – mahasiswa tersebut.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukannya dalam kerumunan itu ia menemukan beberapa manusia yang berambut gondrong, untungnya yang gondrong rambutnya, kalo bulu dadanya yang gondrong!!!, bisa – bisa dikira gerombolan babon tuh kerumunan.



Dalam kerumunan mahasiswa baru itu ada beberapa yang dikenali Nangrub sebagai teman semasa SMP nya tapi ingatanya yang terbatas membuat ia tak dapat mengenali nama – nama mereka, ia ingat kalau itu teman SMPnya berdasarkan bau (emang baunya gimana hah?).



Ternyata dalam kerumunan itu tercampur antara Mahasiswa Baru PWK dan Mahasiwa Baru Arsitektur, si Nangrub mulai memilah – milah mana yang anak arsitek dan mana yang anak PWK dan dia mulai bertanya pada anak – anak yang termasuk golongan mahasiswa PWK



Jaka Nangrub :"eh, gedung kita PWK ada di mana sih?"

Anak PWK : Itu ada palangnya kelihatan di atas


Mendongaklah Jaka Nangrub mencoba melihat keatas dan terlihatlah olehnya Palang berwarna biru kusam yang tidak ada unsur keindahan didalamnya sama sekali didalamnya tertulis dengan jelas huruf – huruf berwarna putih yang membentuk tulisan "PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA"


Jaka Nangrub: Lho, bukanya itu gedung kampus Arsitektur ya?

Anak PWK : iya Jurusan PWK kampusnya kan numpang ama Gedung Jurusan Arsitektur.



Ya Salam.... hancur sudah angan – angan Jaka Nangrub tentang jurusan PWK, jurusan yang ia kira Jurusan Rahasia dan paling pamungkas diantara Jurusan lain, ternyata gedungnya masih numpang ama gedung jurusan lain



Pantesan aja tempat parkirnya bareng dan gak ada palang nama yang eksklusif di depan gedungnya la wong gedungnya numpang.



Jaka Nangrub hanya bisa memotivasi diri, ia ubah pola pikir Jurusan yang menumpang dengan jurusan yang menjajah, menurutnya PWK adalah jurusan yang menjajah di jurusan Arsitektur, dan ternyata terbukti bahwa mahasiswa PWK terkenal sebagai parasit bagi mahasiswa jurusan arsitektur hali ini terlihat dari perilaku mahasiswa.



Contoh :



  1. Ketika melihat mahasiswa yang bergerumul sedang mengerumuni karton atau buku gambar maka dapat dipastikan bahwa itu adalah gerombolan mahasiswa Arsitektur, sedangkan jika melihat rombongan mahasiswa sedang memegan kartu remi dapat dipastikan itu adalah mahasiswa PWK.
  2. Jika melihat mahasiswa dengan pakaian rapi jali dengan kemeja dan wajah yang terawat, maka kemungkinan besar itu adalah mahasiswa Arsitektur, sedangkan mahasiswa yang menggunakan kaos – kaos oblong kayak penjual koran pinggir jalan, dan celana jeans bolong – bolong, dengan wajah lusuh habis dari perjalanan jauh 80% dipastikan kalau dia Mahasiswa PWK.
  3. Saat anak – anak Arsitektur tengah berkuliah, mahasiswa PWK kerap kali berbuat gaduh, hingga membuat dosennya yang ngajar keluar untuk menenangkan mahasiswa PWK yang teriak – teriak karena menang main kartu, kadang – kadang arsitek ribut juga sih.
  4. Dan kalau duduk lalu menemukan bekas upil, ingus, iler, atau permen karet bekas di bawah kursi dipastikan bahwa mahasiswa PWK pernah duduk disitu. (yang ini dilakukan semua mahasiswa kok, baik arsitektur maupun PWK, yek.....).


Demikian cerita yang bisa saya sampaikan kali ini semoga menghibur.



NB: mulai tahun 2008 PWK sudah punya Kampus sendiri berada tepat di belakang Gedung Jurusan Arsitektur, ya dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada dan pemandangan gurun karena jarang pohonnya, dan tentu saja tanpa kehadiran "Bidadari – Bidadari Arsitektur" mata mulai sepet, kalo lama – lama bisa katarak mungkin.



Cerita ini adalah Remake dari tulisan sebelumnya "Pendatang Yang Menjajah"

 

 

 

 

Jaka Nangrub dan Tas yang tertinggal


Postingan ini akan menceritakan tentang kebodohan yang terjadi ketika Jaka Nangrub mendaftarkan diri di ITS melalui Jalur PMDK (Penelusuran Minat Dan Kesialan), saat itu ia masih belum menempuh ujian SPMB yang mengantarkannya ke Jurusan PWK, saat itu ia mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Jurusan Biologi, sesuai dengan pilihannya, yaitu pilihan ke 4 alias pilihan terakhir. Berikut kisah lengkapnya.



Hari itu Jaka Nangrub hendak mendaftarkan diri sebagai tukang sapu eh... mahasiswa di ITS dengan Jurusan Biologi karena secara ajaib Jaka Nangrub telah diterima di Jurusan Biologi ITS melalui jalur PMDK (Penelusurna Minat dan Kecelakaan), Jaka Nangrub mendaftarkan diri di ITS dengan menyeret si Mama secara paksa untuk turut mengantarkannya mendaftarkan diri, Jaka Nangrub memang sangat gemar membagikan pahala terutama kepada orang tuanya salah satunya dengan cara memberikan banyak kesulitan dan cobaan di sisa hidup orang tuanya tersebut.



Karena saat itu Jaka Nangrub masih ingin berjuang masuk ITS di Jurusan Teknik Indutri ataupun Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, sehingga saat itu Jaka Nangrub masih mengikuti bimbingan belajar di salah satu LBB (Lembaga Bimbingan Belajar) yang mengusung nama QUIN singkatan dari "Quantum Institute", dan oleh sebab itu ia masih sering berkeliaran dengan membawa tas yang berisi buku – buku pelajaran, karena jika sewaktu – waktu ingin belajar ke LBB tinggal dateng aja, tasnya udah mengikuti di punggung. (sok rajin kon nang !!!)



Pendaftaran dilakukan di ITS tepatnya di Plaza Dr. Angka, agak aneh memang seorang dokter berkontribusi besar untuk terbangunnya sebuah institusi pendidikan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kedokteran, akan masuk akal jika ITS menyediakan Program Teknik Kedokteran, Teknik Keperawatan, atau Teknik Persalinan (mengkhayal terus sampai mati !!!).



Setelah mengikuti prosedur yang cukup panjang dan lebar, dan petugas administrasi tampak mulai bosan melihat tampang si Nangrub yang tak bosannya memberikan pertanyaan – pertanyaan seputar masalah administrasi, Akhirnya terdaftarlah Jaka nangrub di ITS melalui Jalur PMDK (penelusuran Minat dan Ketampanan), lho berubah lagi ???,dengan jurusan Biologi, biarpun perasaan Jaka Nangrub saat itu tidak terlalu bangga, tapi Jaka Nangrub tetap bersyukur karena akhirnya ada juga Institusi Pendidikan yang mau menerima dirinya untuk menuntut ilmu, di mana kita tahu dengan membiarkan seorang pembuat kekacauan seperti Jaka Nangrub masuk ke ITS, berarti ITS telah bersiap diri mempertaruhkan nama baik yang telah dibangunnya selama bertahun – tahun untuk di hancurkan oleh "Virus Bodoh" Jaka Nangrub, yang konon katanya bisa meluluh lantakkan kecerdasan seorang professor sekalipun hanya melalui saluran pernafasan (yang nggak ingin terjangkiti "Virus Bodoh" Jaka Nangrub harap menahan nafas jika bertemu dengannya, sanagt disarankan)



Masalah Administrasi selesai, dan pulanglah Jaka Nangrub bersama si Mama, ke rumah. Sampai di rumah Jaka Nangrub merebahkan tubuh gendutnya ke Sofa seenaknya, andaikata Sofa itu hidup dan bisa bicara menjeritlah ia ditimpa makhluk yang berat dan tak berguna macam Jaka Nangrub, lalu si Nangrub mulai menyalakan televisi.



Tiba – tiba telepon berbunyi, si Mama Mangangkang ...eh mengangkat gagang telepon, lalu menyuruh Jaka Nangrub mengecilkan Volume Televisi, si Mama menerima telepon sambil menatap ke arah anaknya, matanya tiba – tiba mendelik, perasaan ganjil mengelayoti perasaan Jaka Nangrub



Jangan - jangan itu telepon dari ITS, menyatakan bahwa setelah menimbang – nimbang dan juga imunisasi (emang bayi ?), ITS memutuskan untuk menangguhkan status Jaka Nangrub sebagai mahasiswa ITS karena menurut rektor dianggap terlalu bodoh dan tidak pantas mengenyam bangku perkuliahan di ITS.



Si Mama Menutup telepon sambil geleng – geleng kepala, ternyata dugaan Jaka Nangrub tepat !, tebakannya bahwa itu adalah telepon dari ITS adalah benar, tapi ITS menelepon bukan perihal penolakan atas pendaftaran Jaka Nangrub,



LALU APA?


Lalu si Mama melotot ke arah Jaka Nangrub sambil berucap keras


"kok iso seh rob? Tas mu ketinggalan di ITS ?" (trans: kok bisa tas mu ketinggalan di ITS?)


Ya salam..... ternyata benar setelah si Nangrub memeriksa di setiap sudut rumah dan mobil ia tak dapat menemukan tasnya, si Mama Cuma bisa geleng – geleng kepala sambil membaca istighfar. Tambah banyak lah pahala si Mama.



"Ayo ke ITS lagi" ajak si Mama pada Jaka Nangrub, selama perjalanan dari rumah ke ITS si Jaka Nangrub mendapatkan ceramah dan khotbah, Jaka Nangrub Cuma bisa angguk – angguk kepala gak berdaya, apalagi yang bisa diperbuatnya?



Si Mama: kok bisa sih tas sebesar itu kamu sampai lupa? (sambil tetap mengucap istighfar)


Jaka Nangrub : ya gimana lagi ma?,kehendak tuhan siapa yang bisa menyangkal !


Si Mama : coba kalo hidungmu itu gak nempel paling udah ilang digondol kucing !


Akhirnya mobil sampai di parkiran Plasa Dr. Angka, mobil diparkir



Si Mama menunggu dalam Mobil dan si Jaka Nangrub disuruhnya untuk mengambil tas yang tertinggal, mungkin malu kali si Mama Kalo harus menampakkan lagi wajahnya pada petugas Adminstrasi ITS, sebagai orang tau dengan anak "Superteledor".


Jaka Nangrub jalan luntang lantung kayak orang bingung kemudian menghampiri segerombolan pegawai ITS yang mirip Hyena habis menyantap jengkol di padang pasir Sahara.



Jaka Nangrub : pak saya datang kesini mau ngambil tas


Pegawai ITS : ha tas???, emang ada tas di sini ??


Jaka Nangrub : Lha tadi saya di telepon kalo tas saya tertinggal di sini



Mulai tercium aroma pembodohan umat manusia di sini, Jaka Nangrub mulai menerima guyonan – guyonan bodoh para pegawai ITS. Sampai akhirnya derai tawa mereda kemudian salah satu pegawai ITS bertanya


 
Pegawai ITS : tas mu warnanya apa?


Jaka nangrub: hitam pak!, (kayak pantat bapak)


Pegawai ITS : yang bener ?


Jaka Nangrub :Iya pak, tas item itu punya saya (sedikit harapan muncul)


Pegawai ITS :sekarang lebih sulit ! untuk memastikan kamu pemiliknya, apakah isi tas itu?



Sambil garuk – garuk kepala sendiri, yo mestilah mosok kepala pegawai ITS, Jaka nangrub menjawab



Jaka Nangrub : ada kotak pensil dan ada buku pak.


Pegawai ITS : buku apa???


Jaka Nangrub : ya buku pelajaran lah pak,(masak buku catatan Pahala bapak? Emang saya malaikat !!!!)


Pegawai ITS: ah masak buku pelajaran doang? ada lagi kok !



Jaka nangrub kembali menggaruk – garuk kepala dan seperti mendapatkan Ilham dari yang kuasa ia berkata


Jaka Nangrub : ada buku komik pak !!!.(dengan nada mirip Archimedes berteriak "Eureka")



pegawai ITS : yak tepat sekali. (kamu akhirnya juara dalam "Quiz Are you Sillier than 5th Grader")



si Pegawai ITS akhirnya mengeluarkan Tas si Jaka Nangrub dari balik meja dan langsung di sambarnya tas itu.



Bingung juga Jaka Nangrub, kenapa kok pegawai ITS bisa tahu nomer telepon rumahnya padahal kan yang ketinggalan itu tas?



Jaka Nangrub : pak, kok bapak bisa tahu nomer telepon saya sich?


Pegawai ITS: Ya tahu lah, la wong di bukumu itu ada jelas nama,alamat rumah, nomer telepon.


"Ya Alloh, ada untungnya juga nganggur nulis alamat dan Nomer telepon di buku" pikir Jaka Nangrub



Dalam hatinya mungkin pegawai ITS ingin berkata:


Pegawai ITS : mangkanya jangan baca komik aja, kapan kapan baca batu nisan di kuburan sana biar ingat, ingat sama mati.... hahaha.


kenapa buku komik itu bisa ada di tas Jaka Nangrub?, tentunya karena setelah mengikuti program Bimbingan Belajar QUIN Jaka Nangrub selalu menyempatkan diri untuk menyewa komik di persewaan komik deket rumah.


untungnya komik yang dibawa saat itu bukan komik yang "Aneh – aneh" , coba kalo yang aku bawa komik - komik yang berbau pornogratis dan pornoasik.mungkin ceritanya akan lain karena pegawai ITS gak akanb menyerahkan Tas nya dengan mudah.


Si mama juga gak pernah tahu kalau si Nangrub suka nyewa komik, dan semoga dia gak pernah tahu, walaupun diyakini ia pasti tahu. Intuisi orang tua


Sampai sekian dulu cerita yang bisa disampaikan, kepada teman – teman saya berpesan Jangan pernah meminjam apalagi membaca Komik porno, (kalo minjemin sih nggak apa – apa) hush...