Postingan kali ini akan membahas bagaimana Jaka Nangrub harus berjibaku dengan kebodohan, dan berusaha untuk naik ke kelas XI, ketika ia masih sekolah di SMAN 6 Surabaya.
Jaka Nangrub adalah salah satu murid yang terkenal dikalangan guru, tentu saja bukan karena ia cerdas atau berprestasi di bidang akademik, melainkan karena ia sangat rajin mengikuti "Ujian Ulang" yang memiliki bahasa latin "Remidius Akibatus Nilai Jelekus".
Dengan mengikuti "Ujian Ulang" bukan berarti Jaka Nangrub adalah siswa yang gila mengerjakan soal – soal ujian sehingga merasa tidak puas dengan satu kali ujian,sehingga ia memuaskan dirinya dengan meminta ujian – ujian lagi. "Ujian Ulang" diberikan kepada siswa karena guru yang merasa tidak puas dengan nilai yang terpampang di lembar jawaban siswa yang bersangkutan.
Sudah tidak tehitung jari lagi jumlah Remidi yang harus dilalui Jaka Nangrub pokoknya jari tangan plus jari kakimiliknya sudah tak sanggup lagi untuk dijadikan alat bantu menghitung, andai kata waktu SMA ada kelompok FBR (FANS BERAT REMIDI), sudah barang tentu Jaka Nangrub akan didapuk sebagai pemimpinnya, ibarat kerajaan "Remidi" Jaka Nangrub sebagai Rajanya. Orang tua Jaka Nangrub harus meningkatkan kecerdasan anaknya itu dengan mengirimkan anaknya itu ke LBB lokal, trus ada Guru les privat dipanggil ke rumah, guru ngaji bantuan spiritual, sampai - sampai ikut LBB di Bandung selama kurang lebih 1 minggu selama libur semester 1 kelas X, pake nginep di rumah guru lesnya gitu, mungkin istilahnya "HOMESTAY", selain disediakan pelajaran disana juga disediakan akomodasi dan makan.nama LBB nya tuh "Genius Klub".(baiknya Jaka Nangrub masuk "MORRON CLUB")
Namun karena kebebalan otak Jaka Nangrub untuk diisi dengan pengetahuan yang bermanfaat, sehingga selama "homestay" di Bandung yang ia dapatkan hanya makan - makan, cuci mata ngeliat eneng – eneng geulis Bandung, nggodain anak guru les (sekali lagi,anak guru les, bukan pembantunya!), ilmu yang berhasil didapatkan juga sedikit.
Tiap hari yang ada dipikiran Nangrub hanyalah "Neng geulis macam apalagi yang akan kutemui esok hari?"(utekmu wedok tok cak !, sinawu lah !) iri hati menjangkiti Jaka Nangrub tatkala melihat anak sang tentor yang masih kecil sekitar 3 tahun dibelai – belai dengan mesra oleh siswi SMA Bandung yang konon katanya turunan para bidadari khayangan yang suka kayang (opo seh?), sedangkan Jaka Nangrub,tak ada satupun diantara gadis – gadis itu yang tertarik untuk memberikan belaiannya. (Mengkhayal terus nang!!!).
Semua usaha telah agar Jaka Nangrub dapat masuk Jurusan IPA di kelas XI saat itu, kedua orang tua Jaka Nangrub sudah takut setengah mati jangankan untuk masuk kelas IPA, untuk naik kelas saja sepertinya butuh mukjizat, sampai pada akhirnya Jaka Nangrub diakhir perjuangannya untuk naik kelas membuat perjanjian tak tertulis dengan tuhan,
"Ya Alloh kalo aku naik kelas dan masuk IPA, aku berjanji akan berjalan kaki dari sekolah sampai rumah".
Saat itu yang mengambil rapor adalah si Papa, tersiar kabar bahwa dari kelas Jaka Nangrub setidaknya ada 2 orang siswa yang lulus dan masuk ke Jurusan IPS, perasaan takut menjamahi Jaka Nangrub.
Apakah Jaka Nangrub termasuk dalam golongan dua orang itu?
Ternyata rumor teman sekelas Jaka nangrub yang masuk ke jurusan IPS itu benar, yang satu perempuan karena memang tertarik masuk jurusan IPS sedangkan yang satu lagi karena sial, sangat mungkin rapornya tertukar dengan Jaka Nangrub, "siapa peduli?, yang penting masuk IPA" pikir Jaka Nangrub
Naik kelas XI rasanya kayak lulus SMA, Jaka Nangrub menyalami teman – teman sekelasnya. Tak hentinya ia mengucap syukur dan berterimakasih pada pak Dahlan guru Biologi yang konon katanya merangkap pakar kecantikan rambut
Teringatlah Jaka Nangrub akan janjinya pada Alloh SWT yaitu berjalan dari sekolah sampai rumah, yang jadi masalah adalah sebelum aku nerima rapor kurang lebih sebulan sebelumnya, orang tuaku memutuskan untuk pindah rumah ke Jalan Klampis Anom III no.9 daerah Surabaya Timur, karena rumah yang di jalan Raya Darmo akan dijadikan sebagai kantor cabang oleh Bank Mandiri, sehingga jika dihitung ulang jarak yang harus ditempuh Jaka Nangrub dalam nazar itu berubah dari yang tadinya cuma 10.000 JJM menjadi 6,5 Km atau sama dengan 32.500 JJM. Tiga kali lipat lebih jauh coy !
Mungkin Alloh sengaja memberi lebih banyak cobaan pada Jaka Nangrub, mungkin nazarnya memang kurang, kalau 2 Km Cuma bisa lulus kelas X, 4 Km untuk masuk ke jurusan IPS, dan harga yang harus dibayar untuk naik kelas XI dan masuk jurusan IPA adalah 6 Km.
Saat itu Jaka Nangrub cuma bisa memandang langit sambil memohon pada Allah,
"Ya Alloh aku kan nazarnya di rumah Darmo jadi aku jalan ampe Rumah Darmo aja ya, ya Alloh Pliss !!!"
Tanpa menunggu persetujuan dari Tuhan, Jaka Nangrub memutuskan untuk berjalan dari sekolah hingga rumahnya yang di Darmo, mungkin akan Impas jika Jaka Nangrub berjalan dengan gaya nungging seperti Ayam betina Ambeien pengen bertelor, Nangrub cuma berpikir tuhan maha pemaaf.
Setelah Nazar dilaksanakan Euforia dilanjutkan dengan bermain bersama dengan ERVAN ADITYA P bin Chafid, dan RIKY bin Irzon di Game Station setempat.
Ternyata kondisi kecerdasan Jaka Nangrub saat Kelas XI IPA gak lebih baik dari kelas X, malah tambah ancur lebur seancur – ancurnya paling ancur dalam 3 tahun bersekolah di bangku SMA, mungkin Allah masih dendam karena Jaka Nangrub cuma menjalankan 1/3 nazar doang.tuhan diajak Kompromi sudah gila kamu nang !
Untung aja Jaka Nangrub dulu nazarnya gak terlalu aneh - aneh, coba kalo dia nazar gini
"Kalo aku masuk IPA, aku bakal bertelur di pagi hari sambil berkokok ",
sudah jadi Maskot KFC, atau Restoran "Ayam Goreng Nyonya Suharti" kali dia sekarang
terima kasih untuk Galih yang memintaku mengangkat cerita ini di Blog
Tidak ada komentar:
Posting Komentar