Sabtu, 17 Juli 2010

Jurusan Rahasia


Postingan berikut akan menceritakan sekelumit kisah perkenalan Jaka Nangrub dengan Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Jurusan yang menjadi pilihannya untuk menuntut ilmu, berikut kisahnya



Kuliah di ITS, siapa yang tidak bangga? salah satu PTN di surabaya yang juga merupakan PTS (Perguruan Tertinggi di Surabaya, jangan ada yang protes!) ini tampak menggeliat dan mulai menelurkan manusia - manusia cerdas dan berpengaruh di Indonesia, Makhluk – makhluk berprestasi itu antara lain.


1) Hermawan Kertajaya mahaguru "pemasaran" ini merupakan hasil pendidikan prematur dari ITS jurusan teknik elektro (kalo gak salah yo ngawur), kenapa Prematur?, karena tidak sampai lulus kuliah beliau meninggalkan ITS tercinta untuk kemudian berkuliah salah satu PTS (Perguruan Tinggi Swasta) di Surabaya.


2) Handy si Tukang Kebab yang menjajakan kebab BABA RAFI dan membuka kios Kebab dimana – mana, dan menurut pandangan saya juga sebagai biang menjamurnya "franchise usaha" di Indonesia saat ini, kebab franchise, es pisang ijo franchise, bahkan yang saya tidak habis pikir "Cireng" alias "Kanji Goreng" yaitu jajanan yang dapat kita temui di depan sekolah dengan modal wajan jelek dan minyak warna coklat kehitaman juga turut menggunakan sistem franchise, mungkin suatu ketika akan ada pengamen franchise, dan pemulung franchise.siapa yang tahu?



Bung handy ini juga sempat kuliah di ITS jurusan Informatika, ya lumayan lah jurusannya nyerempet - nyerempet ama kerjaannya jualan kebab (Jambos,nyerempet dari mana cak?).

maka kesimpulan dari 2 tokoh di atas adalah jika ingin jadi orang sukses, berkuliahlah di ITS dan jangan di selesaikan, karena kalau di selesaikan hanya akan menjadi pegawai dan berakhir membusuk di kantoran.(berani coba?, resiko di tanggung pembaca !)



Mikirnya sih gini aja, lha wong nggak lulus aja udah bisa jadi orang sukses kok, gimana kalo lulus, tambah sukses pastinya. Amin

Kebanggaan yang sama dirasakan juga oleh Jaka Nangrub, bagaikan mimpi rasanya bisa masuk dan berkuliah di ITS, dengan segala keterbatasan otak yang dimilikinya, "ini pasti mukjizat Alloh SWT" pikirnya, bahkan Masnya si Jaka Nangrub yaitu Mas Dana sering berkata "paling itu scannernya error waktu itu jadi jawabanmu yang harusnya salah jadi bener", atau "paling kuotanya di PWK lebih banyak dari yang milih jadi walaupun nilaimu ancur, ya bisa masuk". Anjing menggonggong, Khafillah bernafsu eh berlalu.Jaka Nangrub tak pernah peduli yang penting masuk ITS lewat kerja keras sendiri.



Hari itu Jaka Nangrub hendak mengunjungi Kampusnya, karena ada kegiatan TPA bukannya si Jaka Nangrub tobat dan mau ngaji Al – Qur'an, karena TPA bukan lah Taman Pembacaan Al – Qur'an, tapi TPA adalah "Tes Potensi Akademik", sempat terbersit dipikiran Jaka Nangrub "jangan – jangan kalo nilai TPA jelek nanti di keluarkan dari ITS, pendaftaranya di batalkan karena terlalu idiot untuk mengenyam perkuliahan di ITS". Untungnya nggak sampai sekarang Jaka Nangrub masih berkuliah di ITS.

Berangkatlah Jaka Nangrub saat itu dengan perasaan berdebar – debar ditambah dengan rasa penasaran,



Dimanakah kampus PWK berada?


Kata orang – orang sich, jurusan PWK letaknya dekat dengan Jurusan Arsitektur, "maknyus nih" pikir Jaka Nangrub, kabar burung (gak tau burungnya siapa?) berkata bahwa ITS adalah gudangnya Mahasiswi – mahasiswi "manis (ditambah) Imut (dikali) sexy (pangkat) kaya (x) Cantik = mata termanjakan (plus) badan terasa ringan (dikali) celana kesempitan (makanya beli celana yang longgaran!).



Jelas gak salah kemaren milih jurusan PWK, kalo deket ama jurusan Arsitektur jelas makanan batin akan tercukupi (batin yang membutuhkan belaian kasih sayang wanita) sekedar informasi saja Arsitektur adalah salah satu jurusan di ITS yang menjanjikan jumlah wanita dengan kualitas "super" di institut yang masih didominasi golongan pria.


Berangkatlah Jaka Nangrub dengan menggunakan "Kamasupra" (sepeda motor Honda Supra X 110 CC tahun 2010, bekas mas Dana), sampailah ia pada Jurusan Arsitektur, Jurusan ini dapat dikenali dengan mudah karena ada palang – palang tanda yang memberitahukan keberadaannya, tapi dimanakah jurusan PWK tercinta???, mata Jaka Nangrub memburu mencari - cari palang bertuliskan nama "Jurusan PWK" di sekitar palang nama "Arsitektur", tapi tak dapat ditemukannya.

terbersit dalam benak Jaka Nangrub "mungkin jurusan PWK adalah jurusan yang "rahasia" atau low profile (nggak sombong) sehingga tidak ingin keberadaanya terlalu menarik perhatian banyak pihak", besar rasa bangga pada rongga dada Jaka Nangrub yang sudah disesaki dengan 2 biji paru - paru, mungkin juga PWK ini adalah JURUSAN RAHASIA, sebagai mana kita ketahui bahwa JURUS RAHASIA adalah jurus yang disimpan seorang pendekar karena paling pamungkas, "keren banget nih jurusan" pikir Jaka Nangrub .

Karena tak juga mengetahui keberadaan dari Jurusan PWK akhirnya Jaka Nangrub mencoba menghubungi teman yang juga masuk Juruswan PWK via telepon selular.





Jaka Nangrub : Laho, eh Jurusan PWK dimana sih, katanya deket ama Arsitektur, ini aku dah di depan Arsitek nih!

Teman Nangrub : masuk aja ke jurusan Arsitektur !

Jaka Nangrub : Terus parkirnya dimana?

Teman Nangrub : ya di arsitek itu, ada tempat Parkir nya kok

Jaka Nangrub : Okey.



semakin penasaran Jaka Nangrub bahkan tempat parkirnya pun harus di samarkan dengan jurusan arsitektur, khayalan Jaka Nangrub melayang "jangan - jangan ruang kuliahnya di bawah tanah lagi". Sangking rahasianya,Keren !!!.

di depan tempat parkir telah berkumpul seonggok mahasiswa, berdiri seperti menunggu bis jemputan, tanpa memperdulikan mereka, Jaka Nangrub langsung memarkirkan "Kamasupra" ke tempat perkir yang tersedia.

Setelah "Kamasupra" di parkirkan, berbaurlah Nangrub dengan mahasiswa - mahasiswa yang tadi tampak tengah menunggu bis, dengan wajah congkak karena merasa jurusannya adalah Jurusan yang pamungkas dan rahasia) nangrub masuk kedalam kerumunan itu. dan mulailah ia berkenalan dengan mahasiswa – mahasiswa tersebut.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukannya dalam kerumunan itu ia menemukan beberapa manusia yang berambut gondrong, untungnya yang gondrong rambutnya, kalo bulu dadanya yang gondrong!!!, bisa – bisa dikira gerombolan babon tuh kerumunan.



Dalam kerumunan mahasiswa baru itu ada beberapa yang dikenali Nangrub sebagai teman semasa SMP nya tapi ingatanya yang terbatas membuat ia tak dapat mengenali nama – nama mereka, ia ingat kalau itu teman SMPnya berdasarkan bau (emang baunya gimana hah?).



Ternyata dalam kerumunan itu tercampur antara Mahasiswa Baru PWK dan Mahasiwa Baru Arsitektur, si Nangrub mulai memilah – milah mana yang anak arsitek dan mana yang anak PWK dan dia mulai bertanya pada anak – anak yang termasuk golongan mahasiswa PWK



Jaka Nangrub :"eh, gedung kita PWK ada di mana sih?"

Anak PWK : Itu ada palangnya kelihatan di atas


Mendongaklah Jaka Nangrub mencoba melihat keatas dan terlihatlah olehnya Palang berwarna biru kusam yang tidak ada unsur keindahan didalamnya sama sekali didalamnya tertulis dengan jelas huruf – huruf berwarna putih yang membentuk tulisan "PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA"


Jaka Nangrub: Lho, bukanya itu gedung kampus Arsitektur ya?

Anak PWK : iya Jurusan PWK kampusnya kan numpang ama Gedung Jurusan Arsitektur.



Ya Salam.... hancur sudah angan – angan Jaka Nangrub tentang jurusan PWK, jurusan yang ia kira Jurusan Rahasia dan paling pamungkas diantara Jurusan lain, ternyata gedungnya masih numpang ama gedung jurusan lain



Pantesan aja tempat parkirnya bareng dan gak ada palang nama yang eksklusif di depan gedungnya la wong gedungnya numpang.



Jaka Nangrub hanya bisa memotivasi diri, ia ubah pola pikir Jurusan yang menumpang dengan jurusan yang menjajah, menurutnya PWK adalah jurusan yang menjajah di jurusan Arsitektur, dan ternyata terbukti bahwa mahasiswa PWK terkenal sebagai parasit bagi mahasiswa jurusan arsitektur hali ini terlihat dari perilaku mahasiswa.



Contoh :



  1. Ketika melihat mahasiswa yang bergerumul sedang mengerumuni karton atau buku gambar maka dapat dipastikan bahwa itu adalah gerombolan mahasiswa Arsitektur, sedangkan jika melihat rombongan mahasiswa sedang memegan kartu remi dapat dipastikan itu adalah mahasiswa PWK.
  2. Jika melihat mahasiswa dengan pakaian rapi jali dengan kemeja dan wajah yang terawat, maka kemungkinan besar itu adalah mahasiswa Arsitektur, sedangkan mahasiswa yang menggunakan kaos – kaos oblong kayak penjual koran pinggir jalan, dan celana jeans bolong – bolong, dengan wajah lusuh habis dari perjalanan jauh 80% dipastikan kalau dia Mahasiswa PWK.
  3. Saat anak – anak Arsitektur tengah berkuliah, mahasiswa PWK kerap kali berbuat gaduh, hingga membuat dosennya yang ngajar keluar untuk menenangkan mahasiswa PWK yang teriak – teriak karena menang main kartu, kadang – kadang arsitek ribut juga sih.
  4. Dan kalau duduk lalu menemukan bekas upil, ingus, iler, atau permen karet bekas di bawah kursi dipastikan bahwa mahasiswa PWK pernah duduk disitu. (yang ini dilakukan semua mahasiswa kok, baik arsitektur maupun PWK, yek.....).


Demikian cerita yang bisa saya sampaikan kali ini semoga menghibur.



NB: mulai tahun 2008 PWK sudah punya Kampus sendiri berada tepat di belakang Gedung Jurusan Arsitektur, ya dengan segala keterbatasan fasilitas yang ada dan pemandangan gurun karena jarang pohonnya, dan tentu saja tanpa kehadiran "Bidadari – Bidadari Arsitektur" mata mulai sepet, kalo lama – lama bisa katarak mungkin.



Cerita ini adalah Remake dari tulisan sebelumnya "Pendatang Yang Menjajah"

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar